Senin, 04 Mei 2009

Khalifah Umar dan Anak Gembala


Arti sebuah Kejujuran dan Keimanan

Abdullah bin Dinar meriwayatkan bahwa suatu hari dia berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. ''Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!'' ujar Amirul Mukminin. ''Aku hanya seorang budak,'' jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, Umar bin Khatab membujuk: “Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?” Dijawab oleh anak tersebut dengan mantab: “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya.” Umar bin Khatab terus mencoba membujuk: “Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Atau Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti.” Anak gembala tetap tidak terbujuk dan mengabaikan uang yang disodorkan oleh Umar.'' ''

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ''Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa Allah pasti mengetahui siapa yang berdusta?''

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, seorang pemimpin. Dia adalah seorang pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, ''Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.'' Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, terpuji, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah.

Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki iman dan ihsan seperti anak gembala itu.Bila iman dan ihsan menyebar di negeri ini, maka kita akan mendapati peraturan akan dipatuhi, negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hati penduduk negeri menjadi damai.

Demikian memang jaminan dari Allah SWT di dalam Alquran, ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.'' (Al A'raf: 96). Wallahu a'lam. (RioL)

Nilai Kejujuran
Tertegun Khalifah Umar karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata, ia pun berkata, ''Kalimat 'di mana Allah' itu telah memerdekakan kamu di dunia ini. Semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.''

Kisah di atas mencerminkan gambaran pribadi yang jujur dan menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat. Dia tidak akan berbohong walaupun diiming-imingi keuntungan materi sekalipun. Anak gembala itu walaupun miskin, menghadirkan Allah dalam setiap denyut dan detak kehidupannya. Walaupun miskin dia tidak menjual imannya dengan uang atau harta. Walaupun secara lisan mungkin dia tidak mengucapkan kalimah zikir, tetapi dari tindakannya dia berzikir. Zikir yang sesungguhnya, Selalu mengingat Allah! Selalu menghadirkan Allah!

Adakah kita mengingat keberadaan Allah SWT saat hendak melakukan sesuatu?

Ya, Allah memang tidak terlihat secara kasat mata, tapi sesungguhnya Allah selalu melihat semua perbuatan hamba-Nya. Apakah itu kebaikan ataupun keburukan. Sifat jujur dan takwa adalah dua sifat yang tidak dapat dipisahkan.

Karena orang yang bertakwa, pastilah berperilaku jujur. Dan, sebaliknya, orang yang berperilaku jujur termasuk golongan orang yang bertakwa.

Sebagaimana firman Allah SWT, ''Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan, janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (QS Almaidah [5]: 8)

Betapa sesungguhnya kejujuran adalah salah satu sifat dari hamba Allah yang senantiasa bertakwa. Bahkan, kejujuran dan keadilan itu tidak hanya ditujukan untuk sesama Muslim, tetapi juga kepada kaum yang dibenci sekalipun.

Amatlah mahal harga sebuah kejujuran karena akan dibayar dengan ketakwaan. Dan, sudah pasti ketakwaan akan membuka jalan untuk ke surga. Bila kepingan rupiah tidaklah mampu membeli surga, sudah seharusnya kita tidak menjual kejujuran hanya demi materi dunia. Wallahu a'alam

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Mr.Agus, Ass.WR.Wb,

Aku mau tanya, apakah kedudukan atau pangkat si penyamar dalam cerita tentang Khalifa Umar?


Talitha 1 N

Unknown mengatakan...

Ini maksud yg tanya apa ?