Senin, 17 September 2012

ASMAUL HUSNA (grade 3)

(ar-Rahman, ar-Rahim, al-'Alim, al-Wasi', al-Hakim, ar-Razzaq, al-Khalik)


APALAH ARTI SEBUAH NAMA…?

Inilah pernyataan singkat William Shakespeare, ““What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama “telek lincung atau kotoran ayam” untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi)

Benarkah nama tidak penting?

Allah berfirman dalah al-qur’an: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian mengemukakannya kepada mereka yang diberikan kendali, lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (al-Baqarah [2]: 31)

Andaikata nama tak berarti apa-apa, seperti anggapan Shakespeare, mungkin Allah tidak akan mengajarkan nama-nama kepada Adam. Bahkan, mungkin akan ada banyak nama yang tak peduli pada esensi. Shakespeare memang tidak keliru. Ia membuat perumpamaan sangat cerdas dengan menyatakan sekuntum mawar akan tetap berbau harum meskipun memakai nama lain. Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya.

Shakespeare mungkin akan terkejut bila hidup di masa sekarang. Dia akan geleng-geleng menyaksikan banyaknya nama yang diplesetkan, nama yang dipersonifikasikan dengan sesuatu atau dipoles habis-habisan untuk bercitra sesuai dengan kemauan pemilik nama.

Coba bayangkan, seandainya sebuah kaleng biscuit coklat diberi tempelan nama “kotoran ayam” sebagai mereknya, Tentu biskuit coklat itu akan ditolak ramai-ramai oleh calon pembeli. Akan banyak protes kepada pabrik pembuatnya.

Soal nama yang membawa masalah juga pernah dialami oleh orang-orang China di Indonesia pada masa Orde Baru. Mereka diwajibkan mengganti nama Thionghoa dengan nama Indonesia. Maka jadilah orang dengan nama Liem menjadi Salim, Yun menjadi Yunus, dan lain-lain. Beruntung bagi atlet bulutangkis Liem Swie King yang tetap tenar dengan nama Tionghoa-nya, meski secara politik dan budaya tetap saja mengalami diskriminasi.


Tampaknya, nama juga bisa mendatangkan masalah bagi umat manusia. Contohnya adalah dalam Surah 53:

Maka apakah patut kamu menganggap Al Lata dan Al Uzza? (53:19)
Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian? (53:20)

Nama-nama Al-Lata, Al Uzza, dan Manah semuanya merupakan nama-nama, seperti yang dapat dibaca secara jelas dalam 53:23:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama (asma’a) yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun mengenainya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (53:23)

Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat (mereka yang diberikan kendali) itu dengan nama perempuan. (53:27)
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (53:28)

Ayat 53:23 mengindikasikan bahwa meskipun kita harus mempunyai keyakinan terhadap mereka sebagaimana yang tercantum dalam 2:285 dan 4:136, menamakan mereka yang diberikan kendali ("mala'ika") suatu nama kepemilikan tidaklah diizinkan oleh Allah, merupakan perbuatan yang mengikuti persangkaan belaka dan fantasi pribadi bukannya petunjuk yang telah diwahyukan dari Allah.

Saat orang memberikan mereka nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan oleh Allah, mereka mempercayai imajinasi mereka sendiri dan bukannya mereka yang diberi kendali ("mala'ika") yang sebenarnya yang seharusnya diyakini. Fantasi merefleksikan keinginan seseorang agar semua hal menjadi mudah bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, mereka yang berfantasi dengan menamakan nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan oleh Allah, otomatis tenggelam dalam fantasi bahwa terdapat kemampuan memberikan syafa’at pada mereka yang diberikan kendali ("mala'ika") di akhirat nanti.


"Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (12:40)

Nama sangatlah penting.
Nama adalah identitas.
Nama adalah doa.
Nama adalah harapan.

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika tidak ada nama. Mungkin manusia akan bisu. Kita tidak bisa menunjuk ke suatu benda tertentu dengan identitas yang jelas. Mungkin kita tidak akan bias membedakan mana nasi, mana kursi, mana dinding, mana tebing, mana rumah, mana tanah, mana kusing mana kancing, mana racun, mana timun, dst. Bisa dipastikan, dunia akan kacau. Bisa jadi, tidak akan ada kehidupan di dunia ini.

Jika demikian, benarkah nama tidak penting…?

Kenapa Tuhan memiliki nama? Bukankah Allah itu juga nama dari Tuhan alam semesta? Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan, jika Dia tidak punya nama?

Ar-Rahman (Maha Pengasih) adalah nama-Nya.
- Siapa yang memberikan nyawa?
- Siapa yang memberikan penglihatan?
- Siapa yang memberikan akal pikiran?

Ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah nama-Nya.
Siapa yang menyematkan rasa sayang seorang ibu kepada anaknya?

Marilah kita teladani sifat Rahman dan Rahim-Nya:

# Kita harus memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia.
# Kita seharusnya tidak segan membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
# Kita seharusnya menjadi seperti air atau matahari. Air dan matahari tidak pernah lelah memberikan “kasih saying” kepada seluruh makhluk. Air dan matahari memberikan “kehidupan” kepada segala sesuatu di ala mini. Namun, tidak pernah mengharap sesuatu.
# Selain itu, kita dituntut untuk menyayangi binatang, tumbuhan, dan makhluk Allah lainnya, tidak menyakiti binatang ataupun merusak tanaman. Sebab, binatang dan tanaman juga makhluk Allah.

Al-Khaliq (Maha Pencipta) adalah nama-Nya.
- Siapa yang menciptakan aalam semesta?
- Siapa yang menciptakan air?
- Siapa yang menciptakan oksigen?

Marilah kita teladani sifat Khaliq-Nya:

# Kita harus mengoptimalkan kemampuan kita untuk membuat kreasi yang bermanfaat untuk kehidupan.
# Kita seharusnya menciptakan / membuat inovasi dalam hal apapun yang dibutuhkan sesama manusia, binatang, atau tumbuhan.

Al-Wasi’ (Maha Luas dan Meluaskan) adalah nama-Nya.
- Siapa yang melapangkan rizki kita?
- Siapa yang meluaskan wawasan kita?

Marilah kita teladani sifat Wasi'-Nya:

# Kita harus lapang dada terhadap sesama.
# Kita harus mengembangkan wawasan.
# Kita harus memperluas relasi atau teman.

Al-Hakim (Maha Adil dan Bijaksana) adalah nama-Nya.
- Siapa yang member balasan Surga kepada orang yang berbuat baik?
- Siapa yang member balasan Surga kepada orang yang berbuat jelek?

Marilah kita teladani sifat Hakim'-Nya:

# Kita harus berbuat adil terhadap sesama.
# Kita tidak boleh pilah-pilih kasih kepada siapapun.
# Kita memperlakukan diri sendiri ataupun orang lain dengan semestinya.

Al-Alim (Maha Mengetahui) adalah nama-Nya.
- Siapa yang tahu isi lautan dan bumi?
- Siapa yang tahu isi hati setiap orang?
- Siapa yang tahu kejadian yang akan dating?

Marilah kita teladani sifat 'Alim-Nya:

# Kita harus rajin belajar.
# Kita harus banyak membaca.
# Kita harus pintar mengambil pelajaran dari setiap kejadian sehingga menjadi tambahan ilmu untuk diterapkan.

Ar-Razzaq (Maha Pemberi rizki) adalah nama-Nya.
- Siapa yang memberikan rizki?
- Siapa yang memberikan kehidupan?

Marilah kita teladani sifat Razzaq-Nya:

# Kita harus bersedekah.
# Kita harus membantu orang lain yang membutuhkan bantuan.
# Kita harus berbagi kesenangan dengan meringankan kesisahan orang lain.

Bukankah sebutan-sebutan tersebut adalah nama-nama Allah yang indah? Dialah yang memiliki nama-nama yang indah (asmaul husna).

Jika demikian, pentingkah nama...?

Tidak ada komentar: